Musibah Itu Baik

Tuesday, 31 January 2012 15:09 Administrator Yasmin
Print PDF

Oleh: Haidar Bagir - Ketua Badan Pembina Yasmin

Dalam Bahasa Indonesia musibah sering diartikan sesuatu yang mengandung keburukan yang datang menimpa kita. Sedangkan dalam Bahasa Arab musibah itu bersifat netral, tidak mengandung makna keburukan. Bagi orang yang beriman tidak ada musibah dalam arti keburukan, semua yang datang dari Tuhan yang menciptakan alam ini sesungguhnya adalah sesuatu yang baik. Datangnya memang kadang-kadang dengan kemasan yang tidak mengenakkan. Betapa banyak dalam hidup ini kita merasa mendapatkan sesuatu yang tidak enak hanya untuk tahu bahwa beberapa waktu kemudian ternyata hal itu sesuatu yang menyelamatkan.

Sebagai contoh, ada seseorang yang berbisnis dan ia menyuplai sesuatu kepada orang lain, tanpa diduga tiba-tiba hubungan bisnis itu diputuskan sepihak oleh partnernya. Dan ia sangat shock. Setelah diputus ia berusaha mencari alternatif bisnis lain, dan ia berhasil. Ternyata, tidak lama kemudian barang yang dibisniskan sebelum ia diputus itu sudah kehilangan relevansinya, dan sudah digantikan oleh barang lain. Kalau saja ia waktu itu tidak diputus dan tidak berusaha mencari alternatif lain mungkin ia sudah tenggelam dengan perusahaan tersebut. Tapi justru karena ia diputus secara sepihak, hal itu merupakan awal yang baru untuk berbisnis dengan lebih baik lagi dan kemudian ia mendapatkan finansial yang lebih baik ketimbang sebelum diputuskan.

Dalam hidup ini kita sering melihat hikmah dari apa-apa yang tampak tidak baik. Jadi musibah dalam arti aslinya tidak punya arti buruk, perbedaannya hanya pada persoalan kemasan. Ada yang datang dengan kemasan yang menyenangkan dan ada yang datang dengan kemasan yang tidak menyenangkan. Tapi sebetulnya fungsinya sama, sama-sama kebaikan, yang satu segera tampak dengan kemasan yang indah, dan yang lain tertutup dengan kemasan yang kurang indah, tapi isinya sebetulnya sama-sama baik.

Orang yang tertimpa harus rela. Rela ini penting, karena kalau orang tidak bisa menerima kenyataan pikirannya akan kusut dan ia tidak bisa berbuat sesuatu untuk bangkit lagi. Tetapi bagi orang yang rela dan mau menerima kenyataan itu dengan baik, maka pikirannya akan jernih dan hatinya bersih, dan ia punya kesempatan dengan alternatif-alternatif baru yang lebih baik.

Last Updated on Tuesday, 24 April 2012 10:07
| + - | RTL - LTR